Mereka Membonsai Pemuda
17
Agustus tahun 1945 telah dibacakan Proklamasi kemerdekaan negara Indonesia. Indonesia
telah merdeka 68 tahun, Angka yang cukup untuk menjadi negara yang maju.
Apalagi Indonesia dengan potensi sumber daya alam dan manusia yang sangat
melimpah, cukup untuk menjadi alasan Indonesia untuk tidak menjadi negara
miskin. Namun kenyataan hari ini negara tersebut hanya disibukkan dengan urusan
rumah tangga, disibukkan dengan hal-hal kecil yang tidak akan pernah membuat
Indonesia menjadi Bangsa besar. Negara gemah ripah itu bahkan tidak sanggup
menyediakan makanan sendiri untuk rakyatnya sehingga harus memenuhinya dengan
impor makanan dari luar negeri. Arah politik semakin tidak menentu dan mudah
terombang ambing.
Menjelang
pemilu 2014 ini perbincangan politik sedang menjadi topik paling menarik untuk
dibahas. Tak hanya kalangan mereka para petinggi partai yang hiruk pikuk menghimpun
suara untuk kemenangannya. Semua orang sibuk meneliti, menelaah, mencari bahkan
ada yang mencela partai tertentu. Berbagai media membiacarakan politik, pelaku
politik juga kerap menjadikan media sebagai topeng untuk mencitrakan partai
politiknya. Antar partai politik saling menjatuhkan.
Teman,
tentu anda juga sudah tau bahwa perpolitikan di negara kita ini penuh dengan
rekayasa yang kadang berbanding terbalik dengan realita sebenarnya, tentu anda
juga mendengar bahwa orang-orang yang terpilih dalam ajang pemilihan umum itu
ternyata melakukan sesuatu yang berbanding terbalik dengan janji-janjinya saat
masih mencalonkan diri dan tentunya kontra produktif dengan tujuan politik itu
sendiri.
Teman,
Kita tidak sedang mencari-cari kekurangan negeri ini, kita hannya ingin menjadi
bagian dari perjuangan dalam pembangunan bangsa ini. Disaat para pelaku politik
itu mulai tak cermat kebijakannya, kita harus tetap cermat. Disaat mereka
dipengaruhi oleh kepentingan individu maupun kelompok tertentu, kita harus tetap
objektif melihat permasalahan bangsa ini. Disaat berbagai pihak bisa disuap
dengan uang, maka kita yang harus tetap gagah mengatakan tidak untuk
suap-menyuap. Kitalah yang akan tetap semangat mengkritisi setiap permasalahan
bangsa ini secara objektif, karena kita adalah Pemuda.
Demonstrasi
ataupun unjuk rasa yang diusung oleh pemuda itu adalah luapan aspirasi dan sikap
tanggung jawab mereka untuk memperbaiki bangsa ini. Bukan semata-mata karena
kurang kerjaan dan tak tahu aturan. Satu prinsip pemuda, aksi baik damai atau
brutal adalah the last choice. Tentu setelah aksi yang lebih
intelektual, misal lewat tulisan, dialog, dan lewat berbagai aspirasi lain yang
disampaikan, baru jika jalan yang ini tak mendapat respon dan tidak
dipertimbangkan. Mereka memaksa meminta perhatian untuk didengar suaranya lewat
aksi. Itulah pemuda, dan itulah kita yang tidak akan berhenti sampai aspirasi
kita direalisasikan.
Teman,
mereka seharusnya tau bahwa kita tidak sedang mencari popularitas maupun
jabatan apalagi sekedar uang makan, tidak. Idealisme suci ini terlampau mahal
untuk sekedar ditukar dengan uang kertas, meskipun semua orang tau kita tidak
banyak uang, tapi beginilah seorang pemuda menunjukkan kegigihan idealismenya,
dan seharusnya mereka semua meniru gaya politik kita, seharusnya mereka tetap
semangat seperti kita. Apakah setelah usia muda telah lewat lalu semangat
meraka menjadi hilang bahkan berubah jadi penuh pesimistis dengan menukarkan
harga diri mereka dengan sejumlah uang dan jabatan sesaat? Ataukah mereka sedang
lupa bahwa jabatan dipundak mereka terdapat harapan besar bangsa ini? Bahwa
rakyat memilihnya karena rakyat percaya orang pilihannya akan mengantarnya pada
kehidupan yang lebih baik. Ataukah mereka telah menganggap api semangat pemuda
telah padam? Sekali-kali tidak akan teman, Api semangat itu akan tetap berkobar
dan suatu saat bisa membakar siapapun yang melakukan tindakan yang dapat
merugikan bangsa dan rakyat indonesia.
Sejarah
memang telah membuktikan pemudalah yang telah membawa banyak perubahan di
bangsa ini dan ide-ide perubahan itu akan tetap ada di dada-dada para pemuda.
Hampir
semua hal-hal paling besar yang terjadi di Indonesia adalah prakarsa anak muda.
Mulai dari kebangkitan nasional, sumpah pemuda sampai hari proklamasi,
terjadinya reformasi pelopornya adalah anak muda. Presiden dan wakil presiden
pertama negara ini juga berjuang sejak usia muda.
Tapi
teman, situasi saat ini mengharuskan kita sebagai pemuda untuk introspeksi
diri. Dimana orang muda di negara ini seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada
gerakan-gerakan yang terlalu dahsyat yang dilakukan anak muda. Bagaimana tidak,
semakin rendah saja jumlah anak muda yang tertarik membicarakan politik apalagi
memahami betul perkembangan politik di Indonesia.
Belakangan
ini pemuda seakan-akan dibonsai biar tetap terlihat imut-imut indah dilihat
tapi tak tumbuh besar sebagaimana mestinya. Banyak yang melarang kita bicara
politik, mereka bilang “politik itu kotor, politik itu urusan orang dewasa,
politik itu hanya sekedar berebut kekuasan dan jabatan, lebih baik fokus aja
belajar di jurusan kamu lalu mendapatkan kerja dan tidak perlu ikut campur
urusan politik, politik sudah ada jurusannya sendiri, sudah ada yang ngurusi”.
Pertanyaan saya, apakah pemuda jaman dulu yang melakukan perubahan-perubahan
besar itu semuanya dari jurusan ilmu sosial dan politik atau jurusan sejenisnya
saja? Tidak teman. Mereka muncul dari berbagai disiplin ilmu, seperti sains dan
disiplin ilmu non sosial lainnya, bahkan yang melakukan perubahan besar itu
didalamnya terdapat pemuda yang secara tingkat pendidikan formal rendah tapi
mereka sadar akan kondisi perpolitikan negara ini sehingga mereka terpanggil
untuk turut berpartisipasi melakukan perubahan.
Politik
itu bukan sekedar pemilihan umum lalu mendapat kekuasaan dan menduduki jabatan
tertentu, Politik itu bukan milik mereka pelaku politik dan orang yang memiliki
disiplin ilmu politik saja. bukan itu politik sebenarnya teman. Politik itu
milik semua lapisan masyarakat, milik seluruh bangsa, semua orang perlu untuk
mengetahuinya, tak mengenal kasta dan tak mengenal usia. Terlebih kita sebagai
pemuda, kita punya energi lebih besar daripada mereka yang sudah berusia
lanjut, waktu dan kesempatan kita lebih banyak, idealisme kita tinggi, pola
pikir kita tidak tercemari oleh kebutuhan pribadi semata, dan semangat kita
berkobar, sudah seharusnya pemudalah yang paling banyak berkontribusi untuk
bangsa ini.
Pemuda
harus diberikan kesempatan untuk beraspirasi, pemuda harus mengikuti
perkembangan politik, karena ketika terjadi ketimpangan politik pemudalah yang
paling cepat merespon untuk bergerak dan paling mudah untuk berkoordinasi dan
mengambil keputusan. Semangat pemuda yang berkobar harus diberikan wadah untuk
mengaktualisasi diri, berupaya memadamkan kobaran api semangat pemuda bagai
memadamkan api dengan minyak saja, api semangat justru semakin membesar.
Namun
sebagai pemuda tentu tidak lantas serta merta membusungkan dada dan memandang
kotor pelaku politik dan Pemerintah tanpa landasan yang jelas. Sikap politik
pemuda harus berdasarkan analisa yang berintelektual dan bermoral. Bagitupun
sebailknya yang tua tidak memandang pemuda sebelah mata tanpa memberikan ruang
untuk beraspirasi. Seharusnya Ketika yang muda bicara politik maka yang tua
memberikan arahan yang benar. Ketika yang muda salah maka diingatkan, begitu
pun dengan yang tua, mau menerima kritikan pemuda dan segera melakukan
perbaikan jika memang telah melakukan kekeliruan. peluang salah itu ada
dimana-mana. Jika sudah bicara politik jauhkan ambisi pribadi, singkirkan ambisi
golongan maupun partai. Tetapkan satu tujuan: Indonesia.
Achmad Muhlis untuk
LOMBA TULIS NASIONAL (LTN) 2013.
Malang, 31 Maret 2013