Minggu, 31 Maret 2013

Pemuda dan Mahasiswa Jangan Mau diBonsai



Mereka Membonsai Pemuda
17 Agustus tahun 1945 telah dibacakan Proklamasi kemerdekaan negara Indonesia. Indonesia telah merdeka 68 tahun, Angka yang cukup untuk menjadi negara yang maju. Apalagi Indonesia dengan potensi sumber daya alam dan manusia yang sangat melimpah, cukup untuk menjadi alasan Indonesia untuk tidak menjadi negara miskin. Namun kenyataan hari ini negara tersebut hanya disibukkan dengan urusan rumah tangga, disibukkan dengan hal-hal kecil yang tidak akan pernah membuat Indonesia menjadi Bangsa besar. Negara gemah ripah itu bahkan tidak sanggup menyediakan makanan sendiri untuk rakyatnya sehingga harus memenuhinya dengan impor makanan dari luar negeri. Arah politik semakin tidak menentu dan mudah terombang ambing.
Menjelang pemilu 2014 ini perbincangan politik sedang menjadi topik paling menarik untuk dibahas. Tak hanya kalangan mereka para petinggi partai yang hiruk pikuk menghimpun suara untuk kemenangannya. Semua orang sibuk meneliti, menelaah, mencari bahkan ada yang mencela partai tertentu. Berbagai media membiacarakan politik, pelaku politik juga kerap menjadikan media sebagai topeng untuk mencitrakan partai politiknya. Antar partai politik saling menjatuhkan.
Teman, tentu anda juga sudah tau bahwa perpolitikan di negara kita ini penuh dengan rekayasa yang kadang berbanding terbalik dengan realita sebenarnya, tentu anda juga mendengar bahwa orang-orang yang terpilih dalam ajang pemilihan umum itu ternyata melakukan sesuatu yang berbanding terbalik dengan janji-janjinya saat masih mencalonkan diri dan tentunya kontra produktif dengan tujuan politik itu sendiri.
Teman, Kita tidak sedang mencari-cari kekurangan negeri ini, kita hannya ingin menjadi bagian dari perjuangan dalam pembangunan bangsa ini. Disaat para pelaku politik itu mulai tak cermat kebijakannya, kita harus tetap cermat. Disaat mereka dipengaruhi oleh kepentingan individu maupun kelompok tertentu, kita harus tetap objektif melihat permasalahan bangsa ini. Disaat berbagai pihak bisa disuap dengan uang, maka kita yang harus tetap gagah mengatakan tidak untuk suap-menyuap. Kitalah yang akan tetap semangat mengkritisi setiap permasalahan bangsa ini secara objektif, karena kita adalah Pemuda.
Demonstrasi ataupun unjuk rasa yang diusung oleh pemuda itu adalah luapan aspirasi dan sikap tanggung jawab mereka untuk memperbaiki bangsa ini. Bukan semata-mata karena kurang kerjaan dan tak tahu aturan. Satu prinsip pemuda, aksi baik damai atau brutal adalah the last choice. Tentu setelah aksi yang lebih intelektual, misal lewat tulisan, dialog, dan lewat berbagai aspirasi lain yang disampaikan, baru jika jalan yang ini tak mendapat respon dan tidak dipertimbangkan. Mereka memaksa meminta perhatian untuk didengar suaranya lewat aksi. Itulah pemuda, dan itulah kita yang tidak akan berhenti sampai aspirasi kita direalisasikan.
Teman, mereka seharusnya tau bahwa kita tidak sedang mencari popularitas maupun jabatan apalagi sekedar uang makan, tidak. Idealisme suci ini terlampau mahal untuk sekedar ditukar dengan uang kertas, meskipun semua orang tau kita tidak banyak uang, tapi beginilah seorang pemuda menunjukkan kegigihan idealismenya, dan seharusnya mereka semua meniru gaya politik kita, seharusnya mereka tetap semangat seperti kita. Apakah setelah usia muda telah lewat lalu semangat meraka menjadi hilang bahkan berubah jadi penuh pesimistis dengan menukarkan harga diri mereka dengan sejumlah uang dan jabatan sesaat? Ataukah mereka sedang lupa bahwa jabatan dipundak mereka terdapat harapan besar bangsa ini? Bahwa rakyat memilihnya karena rakyat percaya orang pilihannya akan mengantarnya pada kehidupan yang lebih baik. Ataukah mereka telah menganggap api semangat pemuda telah padam? Sekali-kali tidak akan teman, Api semangat itu akan tetap berkobar dan suatu saat bisa membakar siapapun yang melakukan tindakan yang dapat merugikan bangsa dan rakyat indonesia.
Sejarah memang telah membuktikan pemudalah yang telah membawa banyak perubahan di bangsa ini dan ide-ide perubahan itu akan tetap ada di dada-dada para pemuda.
Hampir semua hal-hal paling besar yang terjadi di Indonesia adalah prakarsa anak muda. Mulai dari kebangkitan nasional, sumpah pemuda sampai hari proklamasi, terjadinya reformasi pelopornya adalah anak muda. Presiden dan wakil presiden pertama negara ini juga berjuang sejak usia muda.
Tapi teman, situasi saat ini mengharuskan kita sebagai pemuda untuk introspeksi diri. Dimana orang muda di negara ini seperti hilang ditelan bumi. Tidak ada gerakan-gerakan yang terlalu dahsyat yang dilakukan anak muda. Bagaimana tidak, semakin rendah saja jumlah anak muda yang tertarik membicarakan politik apalagi memahami betul perkembangan politik di Indonesia.
Belakangan ini pemuda seakan-akan dibonsai biar tetap terlihat imut-imut indah dilihat tapi tak tumbuh besar sebagaimana mestinya. Banyak yang melarang kita bicara politik, mereka bilang “politik itu kotor, politik itu urusan orang dewasa, politik itu hanya sekedar berebut kekuasan dan jabatan, lebih baik fokus aja belajar di jurusan kamu lalu mendapatkan kerja dan tidak perlu ikut campur urusan politik, politik sudah ada jurusannya sendiri, sudah ada yang ngurusi”. Pertanyaan saya, apakah pemuda jaman dulu yang melakukan perubahan-perubahan besar itu semuanya dari jurusan ilmu sosial dan politik atau jurusan sejenisnya saja? Tidak teman. Mereka muncul dari berbagai disiplin ilmu, seperti sains dan disiplin ilmu non sosial lainnya, bahkan yang melakukan perubahan besar itu didalamnya terdapat pemuda yang secara tingkat pendidikan formal rendah tapi mereka sadar akan kondisi perpolitikan negara ini sehingga mereka terpanggil untuk turut berpartisipasi melakukan perubahan.
Politik itu bukan sekedar pemilihan umum lalu mendapat kekuasaan dan menduduki jabatan tertentu, Politik itu bukan milik mereka pelaku politik dan orang yang memiliki disiplin ilmu politik saja. bukan itu politik sebenarnya teman. Politik itu milik semua lapisan masyarakat, milik seluruh bangsa, semua orang perlu untuk mengetahuinya, tak mengenal kasta dan tak mengenal usia. Terlebih kita sebagai pemuda, kita punya energi lebih besar daripada mereka yang sudah berusia lanjut, waktu dan kesempatan kita lebih banyak, idealisme kita tinggi, pola pikir kita tidak tercemari oleh kebutuhan pribadi semata, dan semangat kita berkobar, sudah seharusnya pemudalah yang paling banyak berkontribusi untuk bangsa ini.
Pemuda harus diberikan kesempatan untuk beraspirasi, pemuda harus mengikuti perkembangan politik, karena ketika terjadi ketimpangan politik pemudalah yang paling cepat merespon untuk bergerak dan paling mudah untuk berkoordinasi dan mengambil keputusan. Semangat pemuda yang berkobar harus diberikan wadah untuk mengaktualisasi diri, berupaya memadamkan kobaran api semangat pemuda bagai memadamkan api dengan minyak saja, api semangat justru semakin membesar.
Namun sebagai pemuda tentu tidak lantas serta merta membusungkan dada dan memandang kotor pelaku politik dan Pemerintah tanpa landasan yang jelas. Sikap politik pemuda harus berdasarkan analisa yang berintelektual dan bermoral. Bagitupun sebailknya yang tua tidak memandang pemuda sebelah mata tanpa memberikan ruang untuk beraspirasi. Seharusnya Ketika yang muda bicara politik maka yang tua memberikan arahan yang benar. Ketika yang muda salah maka diingatkan, begitu pun dengan yang tua, mau menerima kritikan pemuda dan segera melakukan perbaikan jika memang telah melakukan kekeliruan. peluang salah itu ada dimana-mana. Jika sudah bicara politik jauhkan ambisi pribadi, singkirkan ambisi golongan maupun partai. Tetapkan satu tujuan: Indonesia.

Achmad Muhlis untuk LOMBA TULIS NASIONAL (LTN) 2013.
Malang, 31 Maret 2013