Dulu aku pernah mendengar kata
Palestina, kupikir tidak ada bedanya dengan kata Belanda yang lebih dulu aku
dengar, itulah aku saat di bangku sekolah
dasar.
Aku makin banyak mendengar kata
yang serupa dengan kata Palestina dan belanda, ada Amerika, jepang, china,
mesir, turki, brazil, italia, spanyol dan banyak lagi lainnya. Aku tahu kata
tersebut dari media antara lain saat moment piala dunia 2006 waktu itu jagoanku
kalah yaitu brazil.
Hmm pada saat itu aku tahu kata diatas adalah nama Negara lengkap
dengan benuanya dan rasnya, aku tahu mana Negara arab dan mana Negara barat,
aku juga tahu kalo Negaraku adalah Negara timur, itulah aku saat di bangku sekolah menengah pertama, saat itu aku
tinggal di pondok pesantren yang kurang akses dari dunia luar tapi kaya dengan
ilmu filsafat dan dasar kehidupan.
Aku bagai
pemain sinetron kehidupan, peranku sebagai santri pondok pesantren yang tak
banyak kenal dengan dunia luar diganti oleh prodoser-ku Allah Swt., aku ijin
pada Kiyai-ku untuk meninggalkan pesantren. Tentu bukan hal yang mudah mendapat
ijin beliau, beruntung Pak De-ku salah satu Ustadz senior di Pesantrenku yang
akhirnya dengan penjelasan Pak De aku mendapat ijin untuk Sekolah di luar
pesantren yaitu SMA Negeri satu-satunya di Kotaku, so pasti namanya SMAN 1.
Meninggalkan Pesantren bukan hal yang mudah bagiku, karena
disana aku cukup berprestasi dan aku bangga dengan prestasi yang kuraih waktu
itu. Namun kebanggaan itu justru yang membuat hati kecilku berdoa agar kelak
ditakdirkan untuk keluar dari pesantran menuju tempat lainnya, dan Allah
mengabulkan semua doaku.
Itulah aku saat usia
sekolah menengah atas, aku tahu bahwa setiap Negara memiliki karakter dan
sejarah yang berbeda, makin jelas perbedaan antara Negara Arab, Barat dan
Timur. Akupun tahu bahwa Negara timur hanya dianggap Negara lemah oleh Negara barat
yang menurutnya pantas untuk dijajah dan diambil kekayaannya, ini ternyata yang
membuat para pahlawan berhasil menumbuhkan semangat Nasionalisme untuk
bersama-sama melawan KP alias Kaum Penjajah.
Saat mengikuti moment peringatan hari pahlawan yang diadakan oleh ekstra
kurikuler Pramuka aku makin sadar bahwa kemerdekaan Indonesia bukan hal yang
instan, bahwa kemerdekaan merupakan harapan semua orang dan semua bangsa.
Suatu hari di Asrama tempat aku tinggal, pengurus asrama
mendatangkan seorang Pembina yang belakangan ini kutahu dia adalah seorang
ketua Pusat Komunikasi Nasional (Puskomnas) Forum silaturahim Lembaga Dakwah
Kampus (FS-LDK) yang saat itu beliau sebagai Mahasiswa Unair, Bang Dhani
Setiawan namanya. Saat bertemu dengan teman-teman dia suka memotivasi kami
dengan berbagai cerita, tentang arti perjuangan hidup, tentang dunia kampus,
tentang indahnya jadi mahasiswa, hingga tentang dunia internasional dan tentang
negeri yang masih terjajah yaitu Palestina. Ustadz yang mengajar di Asrama juga
sering menyinggung perihal Palestina dan Negara Islam lainnya.
Dalam segal keterbatasanku dan
sempitnya peluang menurut pandangan Manusia, Allah menakdirkan aku kuliah di
kampus negeri di kota malang. Dengan sedikitnya kemampuan dan minimnya
kapasitas diri aku menjajaki berbagai unit kegiatan di kampus, tidak kurang
dari 4 unit intern kampus dan 1 unit kegiatan ekternal kampus sekaligus, dan Allah
menakdirkan aku menjadi ketua umum LDK, yaitu salah satu unit kegiatan
mahasiswa yang akhirnya menjadi pilihan hidupku di kampus.
Tidak cukup samapi disitu, Allah masih memanjakanku dengan
menakdirkan aku duduk sebagai pengurus puskomda FS-LDK unk daerah Malang raya,
yaitu di Komisi A yang menangani tentang Isu dan Media, didaamnya mencakup
Dunia Islam dan Palestina merupakan objek yang menjadi prioritas untuk
diberitakan, di update dan dikaji problematikanya.
Sebenarnya kajian tentang Palestina
merupakan hal yang sudah berulang kali aku ikuti, sering kali aku juga ikuti
penggalangan Dana untuk Palestina hingga Aksi untuk menyatakan Dukungan
terhadap Perjuangan Rakyat Palestina dan Aksi Penolakan Aktivitas Zionis yaitu
pengusiran rakyat Palestina dari tanah kelahirannya oleh Penjajah Israel. Hingga
kemaren pada tanggal 20-24 juni 2013 aku ditugaskan untuk menjadi delegasi
Puskomda FSLDK Malang raya untuk mengikuti kegiatan yang diadakan oleh
KNRP(Komite Nasional untuk Rakyat Palestina) yang diselenggarankan di DKI
Jakarta.
Acara yang berlangsung empat hari itu dihadiri oleh
perwakilan mahasiswa dari seluruh pelosok Nusantara dari Sabang sampai merauke,
pembicara didatangkan dari berbagai kalangan yang merupakan praktisi pejuang
untuk Palestina, seluruh pembicara pernah menginjakkan kaki di Palestina dan melihat
langsung kondisi umat disana. Meskipun acaranya membahas problematika yang
sangat serius namun acaranya sangat menyenangkan karena dipandu oleh
Fasilitastor yang ramah dan bersahabat, apalagi malam terakhir dihibur oleh
Group Nasyid Izzatul Islam, keren pokoknya acaranya dan yang lebih keren lagi
manfaat dari acara tersebut membuat aku yakin bahwa Palestina merupakan bagian
hidupku dan bagian hidup semua umat Islam, dan aku dengan bangga menyatakan
bahwa “Palestine tomorrow will be free” , Freedom
and Liberty for Palestine…!!!
Ini cerita -Aku dan
Palestina-, bagaimana ceritamu???
(Achmad Muhlis, Malang-16 Sya’ban 1434 H / 25 juni 2013 M)